Selasa, 05 Mei 2009

Puisi : Bidadari-bidadari mu

Aku menghilangkan jejak ditengah keringnya langit kota itu
kerontang jiwaku mendahaga naik sampai ke ubun-ubun
sendi-sendi tulangku menjerit perih
ceceran darah air mata tak lagi sanggup kutadahi

Kuberlari kesana kemari dikejar irama kematian
saat usai merobek-robek lembaran kisah bidadari2-mu
bathinku terkoyak, kesal, jengah meramu jadi satu
khianatmu bagai pisau yang memutilasi ragaku

Masih sanggupkah aku mengulur kata maaf?
sementara, berpuluh tahun kau retas lara dengan sempurna
kali ini, izinkan aku pergi
bersama tawa yang tak lagi membumi

Jumat, 01 Mei 2009

Puisi "Dilema"

Telah kutekuri berjuta mimpi di debur kisah kasihmu
menjaga sekepal setia yang dikerumuni kawat2 berduri
mengenyam kasihmu adalah segores cerita luka
yang berulang mengiris-ngiris dan bertapis lara

Kuterjang gerimis sore yang menantang senja
renta kakiku tertatih di liat tanah basah
sementara kepak sayap malam makin pekat s
sedetikkah kau berpikir tentang aku???

Layar semestamu telah bau tanah
dan rambut putihmu runtuh diterkam waktu
sang hidup memapah langkahmu yang setengah berpijak
tapi, mengapa hitam dunia masih kau geluti?

Berhentilah!
Aku masih terpekur, tak sanggup melangkah dan juga enggan berdiam diri.

Senin, 27 April 2009

Puisi "Di Ujung Sembilu"

Seketika, aku tersedak mendengar ceracau igau mu
jari jemariku terhenti menari dalam rangkaian memoar
otakku mendidih tersambar lidah apimu
siapa sesungguhnya dirimu?

Mawarku masih merekah dibuai semesta
sedang kembaramu belum usai tergelar
mengapa kau kerap berlari mengejar
bila ragamu merangkak dalam rintih terkapar

Di ujung sembilu yang mengilu
gumaman bibir yang tak terhitung meluluh
semakin kelu, keruh dan penuh peluh
dalam tengadah telapak yang lusuh

Senin, 13 April 2009

Kemesraan ini.....

Kemesraan ini.......abadilah.....kini dan nanti.....sampai kutemui ajal-ku....

"Curhat-ku"




Duhai penggubah hati, penggerak jiwa dan penyelimut rasa.......


telah letih kutelusuri jalan-jalan sarat onak dan duri....tapi....masih kau cipta dan terus kau ulur sejuta ulas senyum bagai bunga-bunga yang bermekaran....di musim semi....




Dalam keremangan yang indah....kau menjelma ksatria langit...dan kau lepas satu persatu bintang-bintang yang tergenggam erat di kepalmu.....mereguk nikmat syurga semesta...


Duhai...sang penggengggam hati......indahnya karunia-Mu...




Masih...kumenata segumpal darah milik-Mu, kadang berderai air mata....tak jarang tenggelam dalam pergulatan bathin dan logika yang menyesakkan dada....


ujian-Mu "terlalu" berat, atau keimananku yang mulai rapuh????




Tidak sulit bagimu membolak balikkan 'segumpal darah' yang sesungguhnya ada dalam genggaman-Mu....


Sepertiga malam telah kujelang....berkali-kali....sabar kunanti jawab-Mu


Atau......takdir-Mu....kan berkata lain....???




Duhai ....aku adalah milik-Mu....


Tetap ku jaga hadirku di rel-Mu....


apapun kehendak-Mu.....takdir-ku.....biarkan aku menghela nafas di setiap detik-detik yang tak pernah luput dari menyebut Asma-Mu.....Amiiin.....Allahumma Amin..

Minggu, 12 April 2009

Puisi-"Malam Kita"

Telah kuseduh secangkir tuak di retak malam
saat kau menggigil dan meraba titik-titik nadi
menampik sejuta nada yang berulang kulantunkan
gigi mu bergemeretak seirama gulungan lidahmu

Mlam-malam kita bertabur kemilau bening air mata
aku makin terampil melipat-lipat masa lalu
yang kadang masih terselip dalam bait-bait puisiku
karena rasamu acap menjelma goresan2 yang merintih

Pergilah!
singgahkan hati mati dan usah kembali
biarkan rasaku merenangi perjalanan waktu yang kan bertepi
pada detik terakhir ku kan pasti terhenti

Sabtu, 04 April 2009

Puisi "Waktu"

Asaku menggelayut di pundak mu
diantara bisingnya terik dan deru gulitamu
aku masih tersandar pilu dalam balutan hangat mu
yang acap meredam, timbul tenggelam dan bertalu

Sayapmu terus mengepak, menelusuri irama takdir
seakan mengerti dan membuaiku di balik tabir
tapi, rintik hujan kembali menyapa dengan sebuah bayang
seribu sesal tak kian bertepi menyala dan menayang

Rebah asa, mengulum sunyi yang kerap menyungging senyum
lepaslah mimpi yang berdenyut di kelambu ranum